Showing posts with label Teori. Show all posts
Showing posts with label Teori. Show all posts

31 August 2015

Menembus Batas Idealisme Fotografi

Halo semua sobat DukunFoto! Kabar Baik? Ok, tetap Semangat!

EDIT BUNGKUL OK
Hidup ini dipandang sehat dan berjalan dengan baik apabila semua sistem berjalan normal berada dalam jalur yang benar. Sebuah mesin penggerak dapat dikatakan lancar beroperasi, apabila semua komponen pendukung berjalan dengan sempurna. Cara melihat alur berpikir seperti ini biasa dalam visual orang secara umum. Namun dalam kondisi khusus, orang bisa saja bekerja dan berpikir tidak seperti logika manusia ideal. Terkadang dengan cara-cara normatif tidak membuahkan hasil dan konklusi yang diharapkan, tetapi dengan cara nekat dan keluar dari aturan berpikir yang benar--sedikit gila-- bisa menemukan jawaban atas kerumitan situasi dalam lingkungan profesinya.

Apakah Harus Mengikuti Aturan
Dalam dunia fotografi ada aturan "baku" komposisi untuk menghasilkan gambar yang bagus, seperti aturan "Hanya Ada Satu Pusat Perhatian". Mengapa? karena aturan komposisi itu akan memberikan dampak visual yang kuat pada pandangan pertama terhadap foto yang disajikan.

Hal lain aturan komposisi dalam foto adalah "Ciptakan Arah Pandang yang Jelas", dimana konsep komposisi ini harus bisa menciptakan dan memandu pandangan mata ke bagian terpenting sebuah foto. Dalam aturan komposisi seperti ini bisa menampilkan foto bercerita secara detail ide atau pesan.

Ada parameter yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan komposisi yaitu dengan cara memandangi hasil foto selama beberapa menit, apakah pandangan mata kita bergerak sesuai dengan alur foto lalu menemukan obyek yang menarik.. Namun sebaliknya, jika mata kita dalam memandang sebuah karya foto bergerak ke mana-mana dan tidak kunjung menemukan satu obyek yang bisa menggoda pandangan mata, itu berarti gagal dalam menciptakan karya foto yang baikdan efektif.

Masih ada aturan lain lagi komposisi dalam sebuah karya foto "Ikuti Aturan Sepertiga Bagian". Hampir tidak ada yang bisa salah bila mengikuti sepertiga bidang dalam menciptakan komposisi. Menempatkan obyek foto ke dalam sepertiga bidang ini diyakini akan selalu berhasil menciptakan karya foto yang kuat dan berkarakter serta mengesankan.

Sementara itu aturan dapat membantu fotogafer dalam menciptakan komposisi yang efektif secara konsisten, namun pada bagian lain melanggar aturan tersebut justru dapat menghasilkan komposisi yang tidak kalah kuat. 

Pola pikir "menyimpang" itu dapat diterapkan untuk menganalisa pada foto makro, foto yang menyajikan detail obyek. Sobat semua, coba kita hadirkan sebuah ilustrasi dalam otak kanan yang menangkap gambar clouse up kepala Capung (sejenis belalang) yang sedang hinggap pada sebuah ranting kayu. Hampir bisa dipastikan komposisi yang dapat disajikan yaitu dengan menempatkan kepada capung di tengah frame, tidak mengikuti aturan sepertiga bidang. Mengapa demikian? Karena kalaupun mengikuti aturan sepertiga bagian, maka dinilai tidak cukup efektif, lantaran bagian yang lain--seperti background-- akan menjadi kabur (ngeblur).

Dalam konteks di atas, setelah mengikuti pedoman komposisi foto--meramu komposisi yang menarik sesuai kaidah fotografi-- belum juga puas dan  mampu menciptakan komposisi yang bagus, jangan ragu untuk melanggar segala aturan yang ada dan ikuti kehendak naluri hati.

DukunFoto berpandangan bahwa komposisi itu adalah penggambaran dari cara unik-menggelitik dalam melihat dan menterjemahkan pengalaman emosional pribadi yang khas seorang fotografer saat akan mengeksekusi obyek.  Terkadang hanya dengan mengikuti naluri suasana mood dalam hati--menyangkut keharmonisan dan nilai artistik-- akan berhasil membantu untuk menciptakan sebuah komposisi foto yang kuat dan pesan yang disampaikan menjadi jelas.

Sobat semua pecinta fotografi yang baik hati. Tetap semangat!
Setiap orang dalam melihat suatu obyek memiliki cara yang unik dan berbeda satu sama lain. Belajar melihat sesuai dengan naluri hati adalah langkah penting pertama dalam mencapai sukses dalam fotografi. Hal ini bisa kita lihat pada seorang fotografer sedang memandangi sosok patung berada dalam gedung tua yang lama tidak terawat. Pada saat memandang dan mengamati obyek patung itu, masing-masing fotografer memilki pendapat yang berbeda. Ada yang berpandangan bahwa patung itu berdiri bertahan selama berpuluh tahun tanpa mengeluh dan penyesalan. Fotografer yang berimajinasi dalam menangkap visual bertemakan "Patung yang Hebat" ini akan mengekspresikan gagasannya dengan mengambil posisi berjarak dekat, dengan sudut pengambilan yang agak rendah (law angle), sehingga potret patung itu lebih dominan dan berwibawa.

Namun ada visualisasi dan ide yang berbeda saat seorang fotografer lain dalam memandang sebuah patung itu terekam dan terkesan tercampakkan begitu saja dan tidak berguna, berada dalam ruangan tanpa ada yang peduli. 

Dalam mengaktualisasikan ide dengan topik "Patung yang Merana" itu seorang fotografer akan mengambil gambar dari kejauhan dengan menempatkan patung pada sudut ruangan gedung yang beraksesories sarang laba-laba dan didominasi oleh ruang kosong yang sunyi--sedikit menyeramkan beraroma horor.

Reaksi pribadi yang unik itulah yang akan membantu fotografer untuk menciptakan dan mengaktualisasikan konsep visual  kreatif berdasarkan interpretasi pribadi setiap fotografer. Dan bila interpretasi personal itu diterapkan pada setiap pemotretan akan menghasilkan karya foto yang unik-nyentrik, proporsional dan bermakna, yang pada akhirnya menjadi ciri khas yang konsisten disebut "style".

Sobat semua, tampil berkarakter dengan pribadi yang anggun dan tetap semangat. OK.

30 August 2015

Mata Lensa Tidak Mampu Melukiskan Alam dan Manusia

Halo sobat pecinta fotografi, bakar kemalasan dengan tetap semangat!
Pada artikel ini Dukun Foto masih mengajak sobat semua mendalami dan mengarahkan bidikan kamera pada beberapa obyek lain seperti memotret bayi, manusia, binatang, matahari terbit dan terbenam.

Memotret Bayi
Kehadiran bayi pada keluarga merupakan sosok yang dinanti dan bisa memberi warna baru dalam kehidupan. Bayi merupakan obyek foto yang sering dipotret. Memortet bayi saat baru keluar dari rahim merupakan bagian kesenangan dari luapan kegembiraan orang tua. Namun mengabadikan gambar bayi bisa dilakukan ketika menunjukkan ekspresi seperti tertawa, menangis atau saat tatapan mata kosong-bengong dan melamun. Aneka ekspresi yang lucu ini bisa menjadi kenangan manis bayi untuk keluarga.

Memotret bayi bisa dikatakan gampang-susah, karena sering kali bayi tidak bisa diarahkan dan dikendalikan. Dalam konteks ini, pengambilan gambar bayi bisa diambil secara candid, suatu tindakan memotret yang tanpa direncanakan, mengalir mengikuti gerakan dan perilaku bayi. Hal ini tentu saja diperlukan kesabaran fotografer dalam menangkap momen dan ekspresi yang lucu-menggemaskan saat bayi beraksi. 

Penggunaan aneka sudut pandang pengambilan dan komposisi yang tepat juga merupakan variabel yang perlu diforrmulasikan agar hasil foto bisa sempurna. Pengkayaan hasil jepretan dari berbagai angle bisa menjadi pilihan baik untuk mensortir foto yang paling bagus. Selain pertimbangan angle dan komposisi, hal lain yang bisa ikut ambil peran dalam foto bayi yaitu penyelarasan dan pengaturan background. Pemilihan background dengan nuansa yang mendukung ekspresi bayi sangat diperlukan. Rasanya agak aneh kalau foto bayi dengan menggunakan latar belakang hutan belantara.

Memotret bayi lebih bagus menggunakan pencahayaan alami, karena kulit bayi terlihat lembut sesuai karakter kulitnya. Karena jika tidak hati-hati penggunaan lampu flash bisa menghasilkan kulit bayi seperti kulit orang dewasa kecoklatan. Pakaian yang dikenakan juga tidak boleh terlalu kontras. Pemotretan bayi identik dengan sesuatu yang lembut, kecuali ada tujuan khusus.

Manusia
Secara umum, yang banyak dilakukan oleh fotografer adalah memotret sesamanya. Alasannya adalah manusia merupakan obyek pemotretan yang dianggap paling menarik. Padahal kalau boleh jujur nih, manusia merupakan obyek paling susah diabadikan, karena pemotretannya melibatkan keahlian fotografer dalam menangkap karakter seseorang. Untuk sobat pecinta fotografi yang mulai belajar memotret manusia, pilihan teman dan keluarga sebagai ide yang tidak buruk.

Hal lain lagi kesulitan dalam menangkap ekspresi manusia  adalah saat ia berhadapan dengan kamera. Tugas fotografer adalah meyakinkan kepadanya agar tetap bersikap santai, nyaman dan berpose yang baik. Oleh karena itu, fotografer sebelum melakukan aksinya, perlu ada komunikasi yang intens dengan gaya bahaya yang bersahabat tidak menyinggung perasaan. Sobat, kayaknya lucu ya kalau kita sedang merayu orang, sementara kita menggunakan bahasa yang menakut-nakuti. Apa ada? "Mbak, kalau masih bersikap dan bergaya kaku seperti patung, bagaimana hasil foto bisa baik"? Sobat, ini sih mengancam dan menakuti, bukan membujuk. Nah, fotografer seperti ini, jelas mau mengajak perang. Apa ada ya?

Binatang
Memotret binatang tidak kalah sulit dengan memotret bayi, karena memang sulit diatur dan diarahkan sesuai kemauan fotografer. Bagaimana agar memotret binatang bisa menghasilkan gambar yang bagus. Pastikan perhatian binatang terfokus pada permainan yang disukai. Saat binatang sedang aktif berinteraksi dengan permainan, inilah waktu yang tepat untuk memotret dan setiting kamera pada fitur continuous shot, yang bisa menangkap gerakan binatang secara berurutan. Gunakan  kecepatan rana (shutter speed) tinggi agar bisa mengimbangi kecepatan gerakan binatang yang secara tak terduka terkadang melakukan gerakan spontan.

Mengambil obyek binatang dengan menggunakan lampu kilat tidak dianjurkan, karena bisa mengagetkan, takut dan memancing kemarahan. Kilatan blitz bisa membuat mata binatang kelihatan merah. Jika terpaksa menggunakannya, aktifkan mode red eye reduction.

Matahari Terabit dan Terbenam
4
Salah satu alasan sebagian besar pemotret--termasuk sobat yang pemula--suka memotret matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) adalah karena "mudah" dilakukan. Faktor kesulitan dalam pengambilan penyinar dunia itu adalah kesiapan fotografer dalam menangkap moment yang tepat, karena matahari itu terbit dan terbenam waktunya cukup singkat. Ada hal yang perlu diperhatikan bagi penghobi foto matahari:
  1. Carilah tempat dan sudut pengambilan gambar yang bagus, agar hasil foto yang didapat bernuansa "hangat".
  2. Hitung dan pilih waktu yang tepat --setengah jam sebelum tenggelam dan sesudah matahari terbit--agar mendapat pencahayaan dan warna yang baik, yaitu warna keemasan.
  3. Gunakan lensa tele untuk mendapatkan gambar yang mendominasi bingkai.
  4. Atur komposisi yang serasi agar mendapatkan gambar yang indah.

Sobat sebenarnya masih banyak lagi obyek foto yang perlu ditulis, namun seakan tak pernah habis untuk diungkap. Boleh dikatakan bidikan kamera tidak akan mampu mengungkap tuntas, karena dimensi manusia dan bentangan alam ini sangat luas. Namun begitu sobat tetaplah membidik dan tetap semangat!

29 August 2015

Membidik Multi Obyek Foto

Halo sobat, bagaimana kabar semuanya. Masih sehatkan? Ok, tetap semangat!
Artikel ini merupakan bagian kedua dari artikel yang pernah Dukun Foto tulis sebelumnya "Memotret Berbagai Obyek". Memang membicarakan tentang obyek seakan tidak ada puasnya. Semua kehidupan dalam alam ciptaan Tuhan yang teramat indah ini dapat dijadikan "sasaran tembak" mata lensa kamera. Tergantung dari sisi pandangan fotografer, apakah bisa mengexplor secara tuntas dan detil atau hanya mengambang di permukaan dan tidak menarik serta membosankan lalu ditinggalkan dan terpuruk ke dalam tong sampah. 

Ok, sobat! Sebagai lanjutan dari memotret berbagai obyek, ada bidikan lain yang bisa dijadikan pengetahuan tambahan untuk lebih eksis menguasai aneka bidikan foto.

Human Interest
Secara umum, memotret human interest itu biasanya tak disengaja, tanpa adanya perencanaan. Hal yang demikian sah-sah saja, tanpa ada aturan yang mengikat--wah seperti bicara hukum saja ya sobat. Namun mari pandangan ini coba kita perluas  memotret kegiatan manusia dengan suatu perencanaan yang baik. Perencanaan ini meliputi penentuan lokasi obyek human interest, jenis kegiatan yang akan dipotret dan perizinan--jika diperlukan. Bahkan diadakan hunting spot agar penentuan lokasi didapat dengan tepat.

Tujuan perencanaan pemotretan kegiatan manusia ini agar fotografer bisa menangkap ekspresi secara alami tanpa ada arahan dan setingan dari orang lain. Misalnya memotret seorang kakek pencari kayu bakar di pinggiran hutan desa, lalu menjualnya ke pasar hanya sekedar untuk mempertahankan hidupnya. Seorang fotografer harus bisa menangkap moment yang tepat dari kegiatan kakek ini dengan cara membidikan lensanya secara sembunyi-sembunyi. Di samping itu, fotografer harus bisa menghadirkan gambar dari angle yang berbeda, sehingga lebih bisa memberi pilihan gambar yang beraneka.

Memotret Makro
Membidik obyek makro membutuhkan jarak lensa dan obyek yang cukup dekat. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka diperlukan kamera digital yang pada umumnya dilengkapi dengan fasilitas makro. Fotografer bisa memanfaatkan untuk memotret obyek yang kecil seperti serangga. Kejelian dan kepekaan intuisi fotografer dalam menangkap momen yang baik terhadap suatu obyek sangat membantu dalam menghadirkan gambar yang fokus dan warna yang kontras.

Meskipun foto makro menfokuskan pada faktor kedetilan obyek, namun pemotretannya harus juga mempertimbangkan faktor komposisi dan kedalaman ruang tajam (DOF, Depth Of Field) agar tampilan foto lebih menarik. 

Pada foto makro yang mengharuskan diambil dari jarak dekat, maka sudah barang tentu background dari obyek utama menjadi buram, ngeblur.

Still Life
Yang dimaksud foto still life adalah karya foto dengan obyek benda-benda mati, seperti patung, boneka, mainan, produk makanan dan sebagainya. Pilihan untuk memotret obyek stiil life ini tergantung selera fotografer, karena foto jenis ini lebih menyuguhkan pada nilai seni dibandingkan dengan kualitas fotonya. Namun demikian, perlu juga mempertimbangkan sudut pengambilan dan penataan lighting yang akurat. Pencahayaan  foto bisa dilakukan dengan cara mengatur jatuhnya sinar dengan menggeser atau memutar obyek sampai didapat pencahayaan yang tepat.

Malakukan pemotretan stiil life dilakukan secara ourdoor bisa memanfaatkan cahaya alami matahari dan waktu yang baik pada bagi hari tidak melebih jam 09:00 sedangkan waktu sore tidak melebihi pukul 17.00. Namun jika pemotretan dilakukan di dalam ruangan dengan memanfaatkan cahaya matahari, maka tempatkan benda yang akan difoto dekat jendela. Dengan demikian obyek akan mendapatkan sinar lembut dari samping jendela. 

Biasanya cara yang demikian akan menghasilkan gambar sempurna, karena bayangan obyek yang dihasilkan dari sinar samping jendela akan memberikan efek bayangan yang dramatis.

Sedangkan apabila mengadakan pemotretan dalam ruangan yang tidak didukung dengan cahaya yang cukup, maka langkah bijak yang harus ditempuh dengan menempatkan lampu duduk. Cahaya ini seringkali menghasilkan foto yang lebih baik daripada cahaya lampu kilat, karena sebaran sinarnya lebih terfokus pada satu titik suatu benda dan tak jarang menimbulkan bias dan ngepler.

Foto obyek benda mati membutuhkan pencahayaan yang baik. Oleh karena itu, fotografer harus memilih dengan pencahayaan manual serta bracketing untuk mendapatkan pencahayaan yang akurat. Untuk kamera yang berkompensasi pencahayaan, naikkan sebanyak satu hingga dua stop atau bisa dilakukan pengaturan kamera pada AEB--mode Auto Exposure Bracketing. Mode ini memungkinkan kamera memotret obyek sebanyak tiga kali secara kontinu dengan pencahayaan berbeda.

Dililhat dari keperluannya, foto stiil life bisa dipergunakan untuk berbagai kepentingan komersial maupun nonkomersial. Khusus untuk keperluan komersial, fotografer harus menghadirkan konsep yang baik dan diintegrasikan dengan keinginan klien, sehingga memiliki nilai jual dan menjadi sarana promosi yang menguntungkan klien. Dalam konteks ini, seorang fotografer produk misalnya, harus memahami teknik fotografi secara sempurna yang dipadukan dengan nilai seni yang tinggi.

Sobat semua pecinta fotografi, tetap semangat semoga menginspirasi.

27 August 2015

Fotografi Perkawinan Tradisional

Ok, untuk sobat  semua pecinta fotografi. Kali ini Dukun Foto akan menuangkan pengalamannya selama menekuni bidang fotografi Perkawinan. Banyak suka-duka terjadi saat menjalani profesi ini. Ada kejadian-kejadian lucu terkadang mengundang tawa sekaligus sedih, seperti ketika menjumpai prosesi akad nikah di mana manten laki-laki--entah latah atau kurang konsentrasi-- menirukan perkataan penghulu. "Saudara saya nikahkan dengan saudari Wulan (bukan nama sebenarnya) yang walinya sudah pasrah kepada saya dengan maskawin uang Rp. 2.715.000,- TUNAI." Spontan: "TUUUNAI"!: "Lho...." kata para undangan. Kontan saja semua undangan tertawa lebar, walaupun hanya sesaat. Di bagian lain, ada yang kelihatan sedih kecewa, karena anaknya yang mengucapkan ijab-qabul salah dalam menjawab.

Sobat semua, tetap semangat!
Hari pernikahan adalah a landmark accacion in a person's life. Fotografer harus memperlakukan foto pernikahan dengan tanggung jawab besar. Seolah-olah itu peristiwa paling penting dan bersejarah bagi fotografer sendiri. 

Semua unsur terlibat untuk merancang sebuah perhelatan akbar, maka seharusnya fotografer dapat mengabadikannya dengan sempurna.

Sebuah moment yang tak terlupakan selama hidup adalah sebuah perkawinan. Ada perencanaan dan pengorganisasian, demi menyambut momen bahagia tersebut. Banyak yang harus dipersiapkan, seperti anggaran biaya dan keterlibatan emosional kedua keluarga. Namun apakah momen indah itu haarus terlupakan, Tidak. Dalam pandangan ini, pentingnya sebuah sarana untuk "memutar" kembali ingatan terindah itu, yaitu dokumen foto perkawinan.

Seorang fotografer perkawinan  profesional dan telah punya jam terbang tinggi yang akan mampu meliput dan menangkap momen spesial itu. Maka dalam realitas di lapangan, ada fotografer yang over job, namun di sisi lain ada fotografer yang tidak kunjung mendapat order meski telah berpromosi secara gigih. Kenapa begitu, karena tingkat profesionalisme fotografer berbeda dan bertingkat. 

Dalam pandangan sebagian pengantin, fotografer perkawinan adalah orang yang bisa mengarahkan dan memberikan pilihan berbagai pose. Pendokumentasian yang baik bukan hanya bicara proses yang menyenangkan, namun juga hasil akhir dari sebuah proses, yaitu foto yang baik. Sedangkan fotografer perkawinan yang baik mampu menangkap spirit atau jiwa hari pernikahan.

Mempelai Harus Tampak Cantik
Hasil foto cantik itu adalah foto yang baik pencahayaannya, indah komposisinya, bagus cetakannya, bisa menangkap ekspresi yang bahagia, yang membuat pengantin dan keluarga nampak bahagia dan menyenangkan. 

Dalam konteks ini tidak sepatutnya seorang fotografer perkawinan menampilkan foto saat mata melotot, mulut melebar yang menampakkan gigi besar tidak lengkap, dan hal pose lain yang tidak enak dipandang, meski itu menurut fotografer candid. Sekali lagi kita tidak sedang menampilkan sisi buruk dari sebuah momen perkawinan.

Semua Terliput
Pengantin menjadi pusat perhatian dari seluruh keluarga, teman dan semua undangan yang hadir. Namun tidak berarti dari sisi lain seperti pernik-pernik pernikahan tidak tercover. Mengabadikan sebuah acara perkawinan sama dengan mengabadikan seluruh aspek, benda pelengkap dan semua manusia yang terlibat dalam acara itu.

Hal yang tidak boleh terlewatkan untuk diabadikan adalah pengapit pengantin, orang tua, saudara, pagar ayu, pagar bagus, panitia seksi hiburan. Fotografer harus juga mengamati dengan cermat jika dalam undangan itu ada tamu penting yang harus difoto, seperti tamu pejabat, para tokoh ataupun artis.

Pendukung acara juga harus didokumentasikan dengan baik, seperti dekorasi pelaminan, dekorasi catering dan meja penyajiannya, baju pengantin dan segala hiasannya, souvenir, kendaraan pengantin, banhkan rangkaian bunga ucapan selamat.

Pengantin telah membayar mahal untuk menghadirkan di hari happy wedding-nya dan umumnya merreka menempatkan kemewahan sebagai tujuan. Karena itu perjuangan fotografer untuk mendapatkan kemewahan hadir dalam album pernikahannya mutlak harus didapatkan.

Dalam konteks untuk bisa menangkap seluruh moment, Dukun Foto membagi sebuah foto perkawinan itu meliputi jurnalis, candid, potrait.

Foto Jurnalis
Fotografi perkawinan dengan gaya jurnalistik merekam sebuah acara perkawinan dengan alur cerita yang jelas dan mengalir secara natural yang mengandung jawaban atas pertanyaan: What, Who, Why, When, Where and Haw dengan istilah 5W.

Candid
Fotografi perkawinan jenis candid adalah upaya merekam sebuah acara perkawinan secara apa adanya natural original, tanpa adanya arahan kepada obyek potret. Suasana dibiarkan mengalir sesuai dengan mood yang terjadi saat acara itu berlangsung, tidak direncanakan, spontan dan apa adanya.

Potrait
Secara umum, fotografi potrait adalah foto tetang manusia yang dominan pada ekspresi wajah atau profesinya. Untuk wedding photography, kesempatan melakukan foto potrait adalah saat pengantin dan keluarga berpose di studio atau pelaminan. Foto potrait bertujuan untuk mengeksplor ekspresi wajah "cantik" sekaligus menampilkan kesempurnaan rias pengantin. Hadirkan kecantikan pengantin dengan menampilkan berbagai pose indah dan mewah. Tampilkan detail gaun pengantin yang dipakai, agar nampak kemewahan secara total.






Ok sobat semua, rileks sebentar ya. Tunggu artikel berikutnya. Tetap semangat! Semoga menginspirasi.





26 August 2015

Memotret Berbagai Obyek

Membidik Satu Orang
Selain memperhatikan komposisi, dalam memotret orang, titik fokus lensa harus diarahkan kepada mata. Hasil foto manusia dengan mata buram tentu tidak bisa dinikmati. Lalu bagaimana jika sobat ingin memotret orang yang berlatar belakang kedung atau bangunan, apakah harus tetap mengarahkan fokus kepada mata? Memotret satu orang dengan background gedung harus mempertimbangkan Point Of Interes. Kalau yang ditonjolkan obyek manusia, maka porsi manusia harus lebih kuat dari pada latarnya. Artinya, tempatkan obyek satu orang itu pada posisi yang enak dilihat dan sebaiknya tidak perlu mengikutsertakan seluruh obyek bangunan secara utuh. Di samping itu, memposisikan satu obyek orang dengan latar belakang gedung tidak selalu dihadapkan lurus kepada lensa kamera, melainkan bisa pada posisi serong, duduk, melipat tangan dan sebagainya.

Ada hal lain yang layak diperhatikan dan dipertimbangkan dalam memotret orang tunggal, yaitu ekspresi wajah. Gali ekspresi wajah cantik obyek lebih banyak. Arahkan obyek agar lebih rileks dan banyak tersenyum. Jangan mengambil gambar sebelum obyek bisa santai. 

Ada pengalaman menarik ketika Dukun Foto memotret sepasang manten di dalam kamarnya, setelah akad nikah selesai. Selama prosesi akad nikah, sepasang manten ini tidak pernah memperlihatkan senyum sama sekali. 

Wajahnya terlihat tegang seperti orang ketakuan yang luar biasa dan berkeringat dingin. Setiap kali akan diambilkan gambar, wajahnya menampakan tegang dan kalau dipaksakan dipotret pasti hasilnya tidak bagus. Dalam benak Dukun Foto, bagaimana caranya agar pasangan manten ini bisa agak rileks meski tidak harus senyum. 

                                                                         ***

Prosesi akad nikah selesai. Giliran sesi pemotretan dalam kamar manten--karena menjadi "kewajiban" harus difoto-- yang  telah dihias sangat menarik. Hal pertama yang dilakukkan Dukun Foto adalah mempersilahkan pasangan  manten untuk masuk ke kamar, sebab mereka tidak mengambil inisiatif untuk segera masuk. Tindakan kedua, membatasi crew untuk terlibat dalam sesi pemotretan kamar. Tujuannya adalah agar tidak menambah ribet suasana yang barang kali tidak membuat nyaman manten selama di dalam ruangan. Ketiga, menutup kamar manten, agar suasana makin kondusif. Membiarkan kamar manten terbuka saat pemotretan bisa mengganggu "kekhusukan" dalam pemotretan. 

Untuk membuka suasana menjadi cair--karena sejak awal membeku seperti es-- yaitu menyapa mempelai berdua. Mengapa tadi mas kelihatan tegang dan pucat. Oh, tadi itu saya merasakan perut mules yang hebat, karena tadi malam gak tidur dan sekarang kembung. Lalu mbak tadi kok jadi ikut tegang? Wah, bagaimana tidak tegang bos, saya sendiri ikut bingung melihat tingkahnya. Ok, ok! Oh begitu. Bagaimana sekarang sudah baikan, mas? Mending, bos. Fotografer harus siap dalam situasi apapun, termasuk menunggu dan menciptakan moment yang pas sebelum beraksi memotret. Karena moment yang tepat sebenarnya merupakan "ruh" sebuah foto, meskipun gambar itu "tidak hidup" alias statis.

Membidik Kelompok
Memotret orang lebih dari satu jauh lebih sulit daripada orang tunggal. Sebelum melakukan pemotretan terlebih dahulu dilakukan penataan posisi dan pose. Jika pemotretan obyeknya "agak resmi" seperti karyawan kantor yang berpakaian formal, posisi yang dianggap bagus adalah mengahadap ke kamera dan sedikit tersenyum.

Lain lagi kalau memotret kelompok dalam ruangan. Melakukan pemotretan pada kelompok orang yang berada di dalam ruangan dibutuhkan kejelian ekstra, karena pada umumnya terkendala masalah minimnya cahaya yang berada dalam ruangan. Kalau memungkinkan untuk memilih tempat, pilihlah tempat yang banyak sumber cahayanya. Jika tidak memungkinkan, memakai pijakan kamera (tripot) merupakan pilihan tepat saat memotret dengan kondisi minim cahaya, karena kamera harus diset pada bukaan diafragma besar dan shutter speed rendah. Penggunaan lampu fill in flash ikut andil bagian dalam memperoleh gambar yang terang, karena sebaran lampu flash di area ruangan sekitar pengambilan gambar menjadi rata.

Memotret Pemandangan (Landscape)
Jika sobat semua memilki hobi melakukan pejalanan dengan  membawa kamera, luangkan waktu untuk mengambil gambar panorama alam. Dalam memotret view alam yang sangat indah itu dibutuhkan ruang yang lebar. Oleh karena itu pilihannya adalah gambar berbentuk empat persegi panjang, tidak seperti foto potrait.

Keunggulan dan keberhasilan penilaian foto landscape ditentukan oleh kejelian fotografer dalam mengolah komposisi. Oleh karena itu, fotografer sebaiknya memperhatikan latar depan, latar belakang, perspektif (angle) dengan komposisi ruang foto yang selaras dan harmonis.

Cahaya yang bagus untuk foto landscape adalah memanfaatkan cahaya alam, karena tidak mungkin menggunakan lampu flash yang akan kalah dengan cahaya alam yang lebih kuat. Cahaya alam yang mendukung untuk kegiatan memotret adalah sekitar jam 09:00 dan pukul 16:00, karena cahayanya masih lembut. Jangan terburu untuk memotret sebelum mendapat moment yang pas. Oleh karena itu, kesabaran, ketenangan batin, dan kejelian fotografer berperan besar dalam memperoeh foto bagus.

Ok! sobat semua, tetap semangat dan bervisi ke depan. Semoga menginspirasi.

Sudut Pengambilan Gambar (Angle)

Penentuan sudut pengambilan gambar ini seratus persen ditentukan oleh fotografer sendiri. Artinya, dari sudut mana fotogafer membidikan kamera ke arah gambar yang akan diambil supaya menghasilkan foto yang bagus. Dalam hal ini imajinasi dan kreatifitas sang fotografer sangat membantu dalam menghasilkan karya terbaiknya. 

Foto yang dihasilkan bisa kurang maksimal bila fotogrfer kurang jeli dalam mengeksplor sudut-sudut pengambilan gambar. Hasil foto bisa berbeda  saat dua fotografer memotret satu obyek dalam satu lokasi, karena masing-masing fotografer mengambil posisi yang berseberangan. Angle yang baik tercipta dari kejelian, imajinasi dan kreatifitas dari fotografer sendiri. 

Eye Level View Angle
Pilihan sudut pengambilan gambar ini standar sangat umum, yaitu posisi sudut kamera yang segaris-lurus dengan pandangan mata. Model seperti ini biasanya dilakukan bagi para pemula fotografi. Foto yang dihasilkan dari angle ini kurang menarik. Kalaupun terpaksa harus memutuskan untuk memotret seperti angle ini, obyek yang dipilih harus menarik dan cukup unik. Sebeb kalau tidak, foto kelihatan membosankan, karena angle dan obyek foto tidak ada nilai lebih.

Low Angle
Pengertian low angle ini adalah pengambilan obyek foto yang dilakukan dari bawah. Artinya posisi obyek lebih tinggi dari posisi kamera. Hal ini biasa dilakukan oleh fotografer saat memotret fashion show. Pengambilan gambar seperti model ini sebenarnya cukup menarik, asal fotografer pandai mengatur komposisinya. Foto dengan pengambilan sudut pandang seperti ini hasilnya mengesankan megah dan mewah.

High Angle
IMG_9908copy
Pemotretan obyek secara high angle adalah kebalikan dari cara low angle. Posisi kamera dan fotografer di atas lebih tinggi dari posisi obyek yang akan difoto. Model high angle ini bertujuan untuk menceritakan situasi secara keseluruhan, tanpa menonjolkan obyek tertentu, misalkan memotret orang yang sedang makan di suatu tempat, orang-orang yang sedang berada di suatu keramaian dan sebagainya.




Jarak Pemotretan
Yang dimaksud dengan jarak pemotretan adalah jarak antara posisi kamera dengan posisi obyek yang akan dieksekusi. Pemanfaatan jarak kurang ideal ini sering dilupakan oleh para pemula. Hal ini sangat berpengaruh dengan ketajaman gambar obyek yang difoto. Apalagi dalam melakukan pemotretan menggunakan mode manual fokus, pasti gambarnya ngeblur.

Sobat pecinta fotografi semua. Hal lain yang tidak kalah penting dalam memotret adalah memperhatikan latar belakang (background). Pemilihan latar belakang yang kondisinya cukup bagus dan enak dipandang wajib menjadi pertimbangan utama. Pemanfaatan latar belakang ini sangat berpengaruh terhadaap kenyamanan foto saat dilihat. Seperti saat memotret orang di taman, sebaiknya dicarikan background yang sesuai dengan pakaian dan warna yang digunakan.Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika perhatian fotografer lebih banyak tertuju pada obyek utama, sehingga lupa akan pentingnya pemilihan background yang selaras dan cocok.

Selain ada latar belakang obyek, ada juga latar depan obyek (foreground). Saat melakukan kegiatan pemotretan suatu obyek, jarang sekali fotografer memanfaatkan latar depan. Pada sebagian pendapat fotografer, bahwa latar depan ini mengganggu keserasian obyek utama. Namun jika jeli dalam memanfaatkan latar depan ini, hasil fotonya keihatan menarik, seperti memposisikan latar depan sebagai pemanis bingkai. Ok, sobat sampai di sini dulu. Semoga tulisan ini menambah kekayaan pemahaman sobat terhadap fotografi dan dapat menginspirasi.

25 August 2015

Pencahayaan (Exposure)

Sobat semua, kita lanjutkan pembahasan pembelajaran fotografi ini dari sisi "Pencahayaan". Pengaturan pencahayaan dalam fotografi merupakan kunci keberhasilan dalam mendapatkan gambar bagus. Pengaturan pencahayaan ini sangat berhubungan sekali dengan pengaturan diafragma dan shutter speed, seperti yang sobat baca pada artikel sebelumnya. 

Nah, kalau sobat sudah memahami sepenuhnya pengaturan diafragma dan shutter speed, maka akan memudahkan sobat semua dalam melakukan pengaturan pencahayaan. Dalam hal ini, kita memakai pilihan mode Manual, karena dengan mode ini sebenarnya kebutuhan cahaya yang masuk melalui lensa kamera dapat kita kendalikan. Sedangkan bila memakai mode auto, maka pengendalian cahaya sepenuhnya akan diatur oleh kamera, dan hasilnya kurang memuaskan tidak seperti yang diharapkan.

Pengaturan pencahayaan yang benar akan menghasilkan foto-foto bagus. Jika sobat ingin melakukan pemotretan di luar ruangan (outdoor) sangat disarankan pada pagi hari sebelum pukul 09:00 atau sore hari di atas pukul 16:00, karena cahaya matahari pada dua waktu ini tidak terlalu kuat.

Over Exposure
Over exposure adalah cahaya berlebihan yang masuk pada kamera. Penyebabnya adalah pengaturan aperture (besarnya bukaan diafragma) dan shutter speed tidak sesuai. 

Lalu pedoman apa yang bisa kita pakai agar hasil foto kita mendapat cahaya yang tepat. Sobat semua! Kita memakai pedoman garis metering. Garis ini terdapat dalam kamera, dan bisa dilihat pada saat sobat mendekatkan mata pada view kamera. Garis meter ini biasanya berwarna kuning. Pada bentangan garis itu terlihat tanda minus pada ujung kirinya dan ada angka Nol di tengahnya, sedangkan pada ujung sebelah kanan ada tanda Plus. 

Sobat semua! Untuk menghasilkan gambar yang bagus, maka kita harus menempatkan light meter itu ke titik tengah, yaitu angka nol. Jika light meter itu pada posisi minus (-1 stop), maka gambar yang dihasilkan akan kelihatan gelap. Sebaliknya, jika tanda light meter itu diposisi +1 Stop, maka gambarnya over exposure.

Under Exposure
Kekurangan cahaya ini penyebabnya dari kebalikan over exposure, yaitu jika cahaya yang masuk ke kamera kurang dalam menyinari obyek--dalam proses mirror object-- maka hasil fotonya gelap. Hal ini juga  karena kurang tepat dalam menyelaraskan shutter speed dan diafargma (aperture).

Cahaya Dari Depan Obyek
IMG_0300
Memotret obyek yang menghadap ke arah sumber cahaya membuat obyek mendapat cahaya secara merata dan tampak jelas. Pengaturan light meter ditempatkan pada posisi angka nol, yang artinya obyek akan mendapat cahaya secara cukup.

Cahaya dari Belakang Obyek (Beck Light)
Dalam hal ini obyek membelakngi sumber cahaya, sedangkan fotografer menghadap cahaya. Jika sobat menempatkan light meter pada posisi angka nol, maka dapat dipastikan hasil fotonya gelap. Untuk menyiasatinya, sobat harus menempatkan light meter pada posisi +1Stop, yang artinya lubang bukaan diafragma akan lebih besar yang berarti cahaya yang masuk akan semakin banyak.

Cahaya dari Atas
Memotret obyek dengan cahaya datang dari atas--kalau tanpa ada cahaya lain-- sebenarnya hasilnya fotonya kurang bagus. Seperti saat kita memotret orang di siang hari, di mana sebagian wajahnya akan tertutupi oleh bayangan, karena cahaya tidak merata menerpa obyek.

Komposisi Foto

IMG_9841
Halo sobat jumpa lagi dengan Dukun Foto. Kali ini akan membahas komposisi dalam membingkai obyek. Foto yang dihasilkan dengan menyertakan dan mempertimbangkan komposisi hasil gambar hasilnya jauh akan lebih menarik (eye catching) dibandingkan dengan foto yang diambil tanpa mempertimbangkan komposisi. Ibarat meracik bumbu masak nih, mengkomposisi itu jauh lebih enak dan sedap dibanding dengan yang asal-asalan mencampur, karena semua jenis rempa dimasukkan tanpa mempertimbangkan ukuran. Kacau rasanya! Bisa jadi kelewat asin dan pedas, ha!

Secara sederhana, komposisi adalah cara menata elemen-elemen dalam gambar. Elemen-elemen ini mencakup: garis, bentuk, warna dan cahaya gelap-terang. Ok! sobat kita akan mempelajari beberapa teori komposisi dalam fotografi. Ikuti penjelasan Dukun Foto di bawah ini, jangan bosan ya!

POI (Point Of Interest)
Sobat! Sebelum melakukan pemotretan terhadap obyek, sebaiknya ditentukan dulu apa yang akan ditonjolkan dalam foto sobat. Cara demikian ini komunitas fotografi sering disebut dengan POI.

Cara menonjolkan foto bisa dilakukan dengan zoom-in, mengatur angle (sudut pandang pengambilan gambar), membuat background ngeblur atau gelap. Meskipun ini bisa dilakukan dengan bantuan shofware pengedit gambar, namun sebaiknya pengkomposisian obyek itu dilakukan di lapangan saat pemotretan. Hal ini bisa melatih kepekaan insting dan kejelian sobat dalam menentukan POI.

Aturan Sepertiga Area
Aturan area ini bukan hanya dominasi permainan sepak bola atau bulutangkis, dan bahkan tempat parkir saja sobat! Ah, kayak tukang parkir rebutan wilayah aja. Namun aturan pembagian atau pemetaan wilayah juga bisa diterapkan dalam seni fotografi. 

Aturan sepertiga area paling sering digunakan sebagai acuan komposisi foto. Aturan ini membagi penempatan obyek foto menjadi tiga area. Maksudnya, buatlah gambar empat persegi panjang (landscape) lalu gambar itu dibagi tiga potongan. Nah, saat sobat memotret suatu obyek seperti manusia misalnya, tempatkan obyek itu di bagian satu pertiga dari bingkai persegi panjang. Menempatkan obyek dengan aturan sepertiga area membuat foto lebih enak dilihat dan harmonis.

Garis dan Perspektif
IMG_9470
Garis merupakan salah satu komposisi yang membuat foto sobat kelihatan lebih menarik. Komposisi garis ini tidak hanya terdiri dari garis lurus atau garis lengkungan saja, bahkan bisa kombinasi dari garis lurus dan lengkungan. Sobat bisa mencoba memotret pada sebuah jembatan yang terdiri dari garis lurus dan lengkungan, tepatnya jembatan bergaris melengkung dan menikung. Garis melengkung yang teratur akan membentuk sebuah komposisi yang menarik.

Framing
Framing dalam fotografi adalah cara sobat memberikan suatu dimensi ruang pada obyek yang dipotret. Contoh yang paling sering digunakan adalah ketika sobat memotret gedung dengan latar depan ranting-ranting seakan membentuk sebuah frame (bingkai) di tepi foto.

Ok, sobat pecinnta fotografi, jaga dirimu dan tetao semangat!

24 August 2015

Dasar-dasar Fotografi

Halo sobat semua. Kali ini Dukun Foto akan membahas  materi fotografi. Untuk sobat yang baru berminat belajar teknik dasar fotografi, hal yang paling mendasar perlu dirumuskan adalah: dari mana kita harus memulai belajar. Sebab tanpa ada pemahaman seperti ini, tidak sedikit para pemula bingung mengawalinya.

Namun demikian, dalam konteks di atas, sobat harus memahami dulu bagaimana memfungsikan kamera dengan benar dan pelajari fitur-fiturnya. Baca dulu petunjuk masing masing fitur dengan baik, agar nanti dalam mengoperasionalkan camera tidak terjadi human error.

Ada tiga dasar fotografi yang harus sobat pahami dengan benar:
1. Shutter Speed
Sfutter speed dalam bahasa yang sederhana adalah kecepatan rana. Apa yang disebut shutter speed, untuk selanjutnya disebut Rana. Rana adalah kecepatan kamera dalam membekukan obyek. Nilai kecepatan Rana akan mempengaruhi terhadap besarnya cahaya yang dihasilkan. Semakin rendah nilai kecepatan Rana, maka semakin terang cahaya yang dihasilkan. Demikian sebaliknya, jika nilai kecepatan Rana tinggi, maka cahaya yang dihasilkan semakin rendah (gelap).

Rana yang terdapat pada tiap kamera berbeda, tergantung tipe dan merk. Setiap pabrikan mengeluarkan release kamera baru, maka biasanya nilai Rana juga semakin tinggi, seperti tertera 4" sampai 1/6500. Dalam penerapannya, jika memotret pada kondisi cuaca terang benderang dengan nilai Rana rendah (kecil) maka hasil foto akan over exposure (ngepler). Demikian sebaliknya, jika memotret pada kondisi kurang cahaya dengan menggunakan kecepatan tinggi, maka hasil foto akan under exposure (gelap). Cobalah berlatih memotret obyek pada satu kondisi, lalu ubah nilai Rana secara berbeda-beda. Amati dan bandingkan hasil gambarnya.

Pengaturan Rana juga difungsikan untuk memotret obyek bergerak dengan kecepatan tinggi, misalnya jika sobat memoret orang yang sedang bersepeda, maka untuk menghasilkan obyek yang jelas dan terang harus menggunakan Rana nilai tinggi. Jika menggunakan kecepatan Rana rendah, maka hasil fotonya akan buram (ngeblur).

Lalu bagaimana kalau memotret pada situasi mendung atau kurang cahaya? Maka sobat harus menggunakan kecepatan Rana rendah, namun jangan sampai tangan gemetar (shaking), karena akan mempengarui fokus kamera dalam menangkap dan membekukan obyek. Hal yang bisa dilakukan sobat adalah dengan menarik napas panjang sebelum menekan tombol Rana. Yang kedua, usahakan bersandar pada benda--kalau ada. Yang ketiga, cara yang paling aman adalah memakai kaki penyangga (tripod).

2. Aperture (Diafragma)
Aperture adalah besarnya bukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya masuk pada kamera. Dalam bahasa awam, diafragma dianalogikan seperti lampu yang dapat diatur volume gelap-terangnya. Secara teknis fotografi, aperture sebagai perbandingan antara jarak fokus lensa dengan diameter dari diafragma saat itu. Misalnya lensa diatur dengan bukaan diafragma f/8, maka terang-gelapnya akan sama dengan panjang fokal lensa (zomm) yang berbeda.

Bagaimana mengatur bukaan diafragma di saat memotret suatu obyek pada suatu tempat? Semuanya itu tergantung pada situasi cahaya yang ada pada saat memotret. Jika pada saat pengambilan gambar situasi cahaya berkurang atau redup, maka dibutuhkan bukaan diafragma besar--yang artinya nilai angka pada diafragma kecil--, sehingga cahaya yang masuk pada kamera akan besar (terang). Sebaliknya, jika pada saat memotret situasi tempatnya terang, maka dibutuhkan bukaan diafragma dengan nilai kecil, seperti f/8 sampai f/11 dan seterusnya, sehingga cahaya yang masuk pada kamera akan semakin kecil cahayanya.

Prinsip pengaturan diafragma adalah semakain kecil nilai f/stop (nilai angka)nya, maka bukaan diafragma semakin besar atau lebar, sehingga cahaya yang masuk pada kamera semakin terang. Sebaliknya, jika semakin tinggi nilai bukaan diafragmanya, seperti f/11, maka semakin kecil bukaan diafragmanya, sehingga cahaya yang masuk pada kameran intensinya semakin kecil (gambar gelap kurang cahaya). Bagaimana kalau saat memotret dalam kondisi cahaya terang benderang dipaksakan memakai bukaan diafragma dengan nilai angka kecil, maka cahaya yang masuk pada kamera intensitasnya besar (over exposure), sehingga obyek yang dihasilkan akan kelebihan cahaya (ngepler).

Di samping itu, pengaturan diafragma akan berpengaruh kepada ruang ketajaman gambar (fokusing obyek) dalam fotografi diistilahkan dengan DOF (Depth Of Field). Jika saat memotret menggunakan bukaan diafragma dengan nilai besar, maka ruang ketajaman lebih luas dibandingkan dengan nilai bukaan diafragma kecil. Karena sekali lagi, bukaan nilai diafragma besar akan memberi kesempatan intensitas cahaya masuk ke kamera lebih besar.

3. ISO
ISO adalah suatu kepekaan CCD/film terhadap cahaya. Pada setiap kamera berbeda, dari mulai ISO 100 - 6500, dan seterusnya. Semakin besar nilai ISO pada saat memortet, semakin besar pula kamera dalam menyerap cahaya. Lalu kapan kita menggunakan ISO rendah ataupun ISO tinggi? Pada saat sobat mengambil gambar pada lokasi cahaya berlebih--seperti siang hari-- maka bisa mengambil ukuran ISO lebih rendah 100 atau 200 misalnya. Sebab jika sobat meninggikan nilai ISO-nya, seperti 600 ke atas, maka CCD/film akan menerima cahaya yang berlebihan pula, sehingga gambar yang dihasilkan over exposure. Sebaliknya jika memotret di ruangan yang minim cahaya, sobat menggunakan ISO dengan nilai kecil, misalnya 100 ke bawah, maka CCD/film tidak peka menerima cahaya (under exposure), sehingga gambar yang dihasilkan gelap.

Sobat semua pecinta fotografi, untuk bisa menghasilkan gambar bagus, tajam dan warnanya keluar maksimal, diperlukan latihan terus menerus. Sobat sampai di sini dulu Dukun Foto undur pamit. Semoga dapat ketemu pada artikel berikutnya. Tunggu ya, sobat.